Minggu, 15 Januari 2012

Ketertarikan (Renungan batin – Pranikah - 14)


Aku seorang laki-laki muda yang memang kata orang usiaku sudah cukup siap untuk menjalani hubungan dengan seorang perempuan. Setelah aku lulus kuliah, beruntung aku segera mendapat pekerjaan yang baik. Aku sangat menikmati pekerjaanku. Dengan gajiku yang ada, sebenarnya sudah cukup untuk menghidupi sebuah keluarga kecil. Namun masalahnya, aku belum mempunyai pacar sampai saat ini.

Aku mempunyai banyak teman termasuk dengan banyak perempuan. Aku memang suka bergaul dan menikmati kebersamaan dengan mereka. Tidak jarang kami melakukan aktivitas dan bergembira bersama-sama. Dan aku juga dekat atau bisa dikatakan “bersahabat” dengan beberapa perempuan, tapi tidak ada di antara mereka yang menjadi pacarku. Entahlah, kalau ada di antara mereka yang suka padaku. Namun yang pasti, aku tidak pernah sekalipun mengatakan “I love you” kepada salah seorang perempuan manapun.

Sering temanku dan keluargaku mendorongku untuk segera memiliki pacar. Mereka juga menyangka aku terlalu pilih-pilih perempuan sehingga lama tidak mempunyai pacar. Namun jujur saja sebenarnya bukan aku terlalu pilih-pilih namun aku merasa tidak memiliki dorongan rasa suka. Aku merasa tidak ada “passion” atau getaran-getaran ketertarikan. Atau bisa dikatakan aku tidak merasa cinta pada teman-teman perempuanku.

Tentu aku laki-laki normal yang menyukai dan ingin menikah dengan perempuan. Namun bagaimana aku bisa memaksakan diri untuk berpacaran dengan perempuan yang tidak aku sukai atau cintai? Atau bagaimana mungkin kelak aku bisa menikah tanpa cinta?

Aku juga memikirkan hal ini kenapa aku tidak tertarik dengan salah seorang dari teman-teman perempuanku padahal mereka juga baik-baik hidupnya. Karakternya dan kepribadiannya cukup matang menurutku. Mungkin aku merasa tidak tertarik karena di antara mereka wajahnya kuanggap biasa-biasa saja. Tidak ada seorangpun yang kaunggap cantik atau manis. Entahlah, apakah aku memiliki selera tinggi dalam hal wajah ataukah aku korban dari infotaiment sehingga muncul mimpi-mimpi mendapatkan istri yang cantik seperti bintang film.

Demikian juga dalam hal masalah tubuh. Aku sangat berhasrat memiliki istri yang badannya seksi dan kulitnya putih mulus. Kalau aku menemukan sedikit “belang” dikakinya saja…wah perasaan tertarikku bisa langsung merosot meskipun yang lain sudah “ok”.

Pencarian demi pencarian. Pergaulan demi pergaulan. Pendekatan demi pendekatan. Namun akhirnya aku tidak menemukan orang ideal menurutku yang aku cari. Setiap bertemu dengan satu orang yang sudah beberapa hal aku suka, ternyata aku melihat ada yang kurang di sisi lainnya dan aku tidak melanjutkan rasa tertarikku itu demikian seterusnya. Hingga aku merasa lelah, apalagi mengingat usiaku juga terus bertambah. Bukankah juga semua manusia pasti ada kekurangannya dan tidak ada yang sempurna.

Dalam kebodohanku aku menyadari bahwa keputusanku untuk menyukai seorang perempuan hanya berdasar persoalan fisik semata. Aku suka kalau dia cantik, kulitnya putih mulus dan badannya seksi. Dan perasaan suka itu pula yang melatarbelakangi keputusanku untuk menjalani hubungan serius dengan seorang wanita bahkan untuk menikah. Meskipun sesuatu yang penting bila orang menikah, tentu harus ada rasa suka juga. Namun bukan itu satu-satunya dan tidak bisa menunggu terus menerus rasa suka itu untuk muncul dengan sendirinya tanpa aku mengupayakan supaya itu “ada”.

Sebenarnya aku tidak harus melangkah ke hubungan yang serius dengan seorang wanita hanya dengan menanti datangnya rasa suka atau “passion” itu, tapi aku bisa mempertimbangkan karakter dan kepribadiannya apakah baik atau tidak. Jadi perasaan suka-ku difokuskan kepada apa yang esensi maka itu akan berkembang dan menumbuhkan rasa cintaku padanya bila kami semakin dalam membangun hubungan. Meskipun itu bisa bertumbuh sedikit demi sedikit.

Di sisi yang lain, apabila pertimbanganku dalam memilih teman hidup hanya didominasi oleh masalah fisik semata maka aku bisa kecewa karena hal itu tidak langgeng. Seiring dengan bertambahnya usia, maka akan ada perubahan fisiknya yang makin tua.

Maka pertimbanganku yang paling mendasar adalah karakter dan kepribadiannya yang matang dan tentunya persoalan itu bersumber dari kerohaniannya yang bertumbuh.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar