Senin, 07 Mei 2012

“Nyemplung” di dunia (Renungan Batin - orang tua & anak)



Anakku, Ketika kamu lahir ke dunia. Aku bahagia sekali, aku lega, aku senang bahkan tak terasa ada tetesan air mata mengalir di pipi tanda keharuan. Kami orangtuamu memang sudah mengharapkan kehadiranmu di dunia ini. Semenjak engkau belum terbentuk di rahim ibumu, kami memintanya kepada Sang Pemberi kehidupan supaya menitipkan “benih” itu di rahim ibumu. Bahkan kadang kami melakukannya setekun-tekunnya kalau tidak bisa dibilang sedikit memaksa Tuhan. Setelah tahu kamu ada, lalu kami berusaha melakukan apapun supaya kamu hidup dan sehat ketika lahir baik jasmani maupun jiwa.
Sekarang kamu sudah menjadi anak-anak dan sudah menikmati semua yang ada di dunia ini meski dalam ruang lingkup yang masih terbatas. Saat ini ketika aku melihatmu aku jadi merenung.
Anakku,  ternyata kehadiranmu yang kuharapkan itu ada motif-motif egoismeku. Aku bangga punya anak karena dengan demikian, terbuktilah bahwa ayah dan ibumu itu “tokcer” alias subur alias tidak mandul. Aku senang karena kamu bisa menjadi penghiburanku di kala aku capai kerja, ketika aku penat menjalani kerumitan hidup, tatkala aku membutuhkan bantuan dan sebagainya. Aku tenang karena kelak moga-moga di masa tuaku ada yang akan merawat aku. Dan juga aku bisa bertepuk dada karena akan mewariskan keturunan demi keturunan dan karenanya itu nama akhirku kutempelkan di belakang namamu (kamu tidak bisa melepaskan itu karena ada akte tertulis yang sah) sehingga kelak orang-orang akan tahu kamu dan keturunanmu lahir dari keturunan siapa. Dan lagi, siapa tahu dalam hidupmu kelak kamu bisa merealisasikan mimpi-mimpiku yang tak dapat kuraih ketika aku muda dulu. Seringkali ini semua tertutupi dan tidak terungkap pada banyak orangtua.  Oh betapa egoisnya aku…
Sebenarnya kamu ada di dunia ini bukan maumu. Kalau aku bisa mengembalikanmu ke tempat asalmu, namun aku tidak sanggup, kamu sudah lahir dan kamu ada. Aku tidak tega membiarkanmu mengarungi dunia ini yang makin lama makin kelam ini. Kamu sudah pernah merasakan sakit dan bisa akan sakit lagi. Kamu mengalami tidak enaknya dibenci dan membenci, kamu tertolak, terhina, kamu lapar, kamu kesepian, cacat, gagal, berjuang mengatasi kebiasaan burukmu yang memang biangnya ada di dirimu, lelah, berjuang menghadapi ujian di sekolah,  berkompetisi  cari kerja, kesusahan yang bisa ada dalam rumah tangga, digerogoti usia, merasa tak berarti dan kelak juga kematian. Kamu bisa jadi akan mengalami semua itu, karena itu juga dialami semua manusia di dunia.
Tidak hanya kamu alami sendiri, kamu juga akan melihat anak-anak menangis kelaparan kurang gizi, anak-anak alam tanpa bapa dan ibu (tidak tahu entah dimana), anak-anak yang harus menanggung penyakit mematikan karena tertular oleh kecerobohan orang lain, ada juga istri-istri yang menangis karena entah dimana suaminya atau diperlakukan semena-mena, suami-suami yang dikhianati istri-istrinya. Bila kamu pergi ke jalan-jalan, lihatlah kadang ada orang tanpa terurus compang-camping meminta-minta , cacat, kusta bahkan ada yang teriak sambil telanjang, ada tangisan dimana-mana karena penindasan, bencana alam, perkosaan, pembunuhan, terlindas kereta dan sebagainya. Namun juga kamu akan lihat orang terkekeh-kekeh sampai lidahnya trejulur penuh busa karena kekenyangan makan uang yang bukan haknya,
Aku sudah pernah merasakan pernak pernik itu dalam perjalanan hidupku dan banyak kulihat. Jadi aku tahu itulah dunia, mekipun kamu juga akan menemui keindahannya : kicauan burung, harumnya bunga, perhatian orang lain, dicintai dan mencintai, menerima penghargaan, jadi idola, senandung merdunya music, ciuman pertama, menikah dan sebagainya,
Lalu harus bagaimana?
Bila aku harus merenungkan lagi. Mungkin enak kalau kamu tidak pernah ada supaya kamu tidak perlu merasakan pahitnya hidup, tapi jauh lebih berguna kalau kamu ada. Sebaiknya kamu memang harus lahir dan ada di dunia ini, karena Pemilik hidupmu yang sejati memang menghendakinya demikian. Aku tidak punya hak apa-apa untuk hidupmu meskipun aku orangtuamu. Hidupmu bagi Dia dan orangtuamu diperlengkapi untuk mengantarmu kesana. Yang perlu aku lakukan adalah meluruskan kembali semua motif-motif egoisme yang tersembunyi dalam hatiku itu.
Anakku, ingatlah ini. Kamu ada supaya bisa menolong lain. Kalau ada orang menangis, hiburlah dia dan sediakan bahumu untuk menyandarkan kepalanya. Bila ada orang buta, tuntunlah ia dan berikan tongkatmu. Bila ada orang sakit, obatilah. Bila ada orang sedih, buatlah dia tersenyum, bila ada yang kehilangan jadikan dirimu penggantinya. Ketika orang lapar dan haus, beri mereka makan dan minum, kalau mereka telanjang tutupilah dengan pakaianmu, yang terpenjara bebaskanlah, yang sekarat kesepian menjelang ajal peluklah dan hantarkan dengan tenang.
Anakku, kamu memang sudah nyemplung ke dunia. Jangan tenggelam, tapi juga jangan cepat-cepat “mentas”. Aku tahu ketika kamu lahir dulu, banyak orang disekitarmu tertawa dan senang menyambutmu padahal kamu saat itu menangis sendirian, karena sedang nyemplung di dunia. Tapi berharaplah dan orangtuamu doakan juga supaya ketika kamu “mentas” kamu tertawa dan tersenyum sendiri namun sebaliknya banyak orang akan menangisimu. Kamu sudah kembali ke asalmu dengan penuh kepuasan karena menjalankan maksudNya.
Nb :
Nyemplung (bhs jawa) = masuk ke dalam air
Mentas (bhs jawa) = sudah keluar dari air

Dihitung mundur (Renungan Batin – manusia & Tuhan)



Berita meninggalnya wakil menteri ESDM bapak (alm) Widjajono  P ketika melakukan pendakian di gunung Tambora NTB cukup mengejutkan semua pihak baru-baru ini. Padahal beliau, kata istrinya, tidak pernah punya riwayat sakit jantung atau stroke. Apalagi beliau rajin berolahraga tiap pagi dan sudah biasa mendaki gunung sekitar 50 gunung bahkan telah menjelajah sampai gunung Himalaya.
Hal ini menyadarkanku bahwa tibanya ajal itu tidak bisa diketahui atau diduga-duga. Kapanpun dan dimanapun serta melalui cara apapun, maut itu bisa menjemput siapapun bila sudah saatnya tiba. Kematian juga tidak mengenal urutan usia, belum tentu orang yang usianya lanjut meninggal terlebih dulu dibanding dengan orang yang umurnya lebih muda. Demikian juga tutup usia tidak mengenal status sosial seseorang, baik gelandangan atau profesor, orang bodoh atau pintar, kaya atau miskin, laki-laki atau perempuan, suku apapun, rohaniawan atau umat, preman atau saleh dan sebagainya tetap sama akan mengalaminya. Entah orang percaya atau tidak, mau atau tidak, tetap tidak dapat menghindar ketika namanya sudah dipanggil. Memang ada orang-orang tertentu yang tidak mengalami kematian jasmani ini, itu karena kehendak Tuhan semata namun sebagian besar manusia di dunia ini akan menjalani kematian.
Aku tidak membicarakan kenapa ada maut. Yang aku renungkan bagaimana aku menghadapi saatku nanti. Aku berpikir kematian adalah realita hidup sebagaimana makan, tidur, kerja, nikah, lahir dan tentu juga mati. Tentu saja aku juga takut bila tiba-tiba mengalami kematian, aku takut karena kematian itu misteri, bayanganku disana akan sepi dan gelap apalagi dimasukkan ke dalam peti mati lalu dipaku dan dikubur dan ditanam dalam tanah. Hujan dan panas menerpa. Aku juga takut mati kalau prosesnya menyakitkan sebelumnya misalnya sakit tertentu yang lama dan menyusahkan orang lain. Aku juga takut kalau cara aku mati juga menyakitkan. Kalau aku ditanya apakah aku siap menghadapi maut saat ini, jawabku tegas dan lugas “TIDAK SIAP !” karena anak-anakku masih kecil dan kasihan istriku yang akan merawat sendiri bila aku mati sekarang. Lalu bagaimana dengan kehidupan setelah mati, apakah aku takut menghadapinya? Nampaknya aku berani mengatakan “aku berani” karena aku menuju kesana tidak dengan tiket yang dicap dengan segala kesalehan dan kebaikanku sendiri, tapi dicap dengan darah dari Pribadi yang kudus dan tak bernoda oleh dosa apapun. Dia mengorbankan nyawa dan darahNya karena kasihNya kepada semua orang berdosa. Dialah pula yang menjadi Pembelaku disana. Jadi aku yakin saja.
Tentu saja sebagian besar orang tidak siap bila tiba-tiba peluit panggilan itu ditujukan pada dirinya, maunya ya nanti-nanti saja. Demikian juga dengan orang-orang yang ditinggalkannya juga tidak akan siap. Karena ada keterpisahan di dunia, tidak bisa berkomunikasi lagi, dan sebagainya.
Namun dalam kewarasanku sekarang aku justru sedang mengajukan proses pendamaian dengan maut itu. Artinya apakah aku takut, tidak mau tahu dan berusaha menghindar dari kematian tidak juga menjamin aku tidak mati kelak. Tentu saja maut tidak akan bertanya kepadaku “ kamu takut kalau mati sekarang?” Kalau takut ya sudah nanti saja menunggu kalau kamu berani. Pastilah tidak demikian. Oleh karena itu, kalau pasti mati dan tidak tahu kapan mengapa aku harus ditekan dengan perasaanku sendiri yang justru membuatku menderita.
Maka saat ini dengan menyadari kematian itu ada dan bisa menimpaku kapanpun maka aku akan menghitung hari-hariku selagi masih ada waktu. Dulu ketika aku anak-anak, umurku dihitung maju namun saat usiaku menjelang setengah abad maka usiaku dihitung mundur. Ketika berulang tahun justru menjadi pengingat bahwa jatah usiaku sudah berkurang satu tahun. Jadi seharusnya sukacita ulangtahunku tidak lagi karena ada orang yang memberi ucapan selamat atau merayakan aku atau bukan karena “make a wish” supaya panjang umur, namun sukacita ultahku seharusnya karena menyadari bahwa waktuku mesti dipakai dengan hati-hati.
Dalam kesadaranku yang lain, maka aku harus mempertanyakan keyakinan pribadiku : apakah aku percaya ada kehidupan kekal setelah mati? Apakah aku meyakini bahwa kehidupan yang sejati justru setelah kematian itu? Apakah aku meyakini bahwa kematian adalah kesempatan untuk mempercepat bertemu dengan sang Penebus? Apakah aku yakin bahwa kelak ada kebangkitan yang membawa pada kemuliaan dan sukacita abadi? Mungkin ada benarnya kata Ebiet G Ade “kematian adalah tidur panjang” kerena kelak ada saatnya bangun. Bila jawabanku semuanya “AKU YAKIN”. Maka kesempatanku masih hidup di dunia ini akan kumanfaatkan sebaik-baiknya.
Aku belajar untuk membicarakan, mensharingkan dan menuliskan realita kematian ini secara wajar, bukan sesuatu yang tabu atau mengerikan untuk dibicarakan. Aku juga belajar untuk melepaskan dari keterikatan dengan benda-benda, keinginan-keinginan, kesukaan-kesukaan dan orang-orang. Selain itu bila memiliki sesuatu, tidak merasa itu akan dipegangnya selamanya.
Namun yang penting adalah bagaimana aku mempersiapkan kemana aku hidup setelah mati dan apa yang aku wariskan kepada orang-orang yang kelak aku tinggalkan. Akan dikenang sebagai apakah aku kelak?
Aku ingin dikenang sebagai orang yang dikasihi Tuhan dan bergaul denganNya. Dan karena pergaulan itu mempengaruhiku bagaimana aku berhubungan dengan orang lain, benda-benda, keinginan-keinginan, diriku sendiri dan alam. Selain itu aku ingin menjadi ayah dan suami yang baik. Dan juga menjadi hamba bagi Tuhan dan orang lain yang baik.
Tapi kalau aku ditanya apakah sekarang aku berani mati? Kalau boleh aku memilih aku mau untuk hidup lebih lama lagi supaya lebih banyak waktu untuk mengerjakan sesuatu yang penting karena perspektifku yang sudah berubah. Namun kalau tidak, minimal aku sudah menyiapkan diri.  
Jadi karena aku masih takut dan sedang menjalani proses berdamai dengan adanya realita kematian itu maka aku menuliskan dan membagikan perenunganku ini.   

Sabtu, 31 Maret 2012

Curahan hati buat ortu (Renungan Batin – anak & orangtua)


Telah lama aku ingin membagikan apa saja yang kupikir dan rasakan pada ayah dan bunda. Namun tidak cukup keberanian bagiku untuk melakukannya apalagi bila kuungkapkan secara lisan, entah kenapa. Aku tahu tidak boleh begitu sebenarnya tapi ini yang terjadi. Maaf ya ayah dan bunda he he… Semua telah terpendam begitu dalam dan kadang aku mencoba untuk menyimpannya sendiri namun lama-lama aku tidak tahan dan aku harus berbicara. Semoga lewat tulisan ini bisa mewakili semuanya dan aku berharap ayah dan bunda bisa memahaminya.
Ini berkaitan dengan diriku dan tentu saja juga menyangkut ayah dan bunda. Ayah dan bunda, terima kasih kalau selama ini sudah mau mengasuh dan memelihara aku. Tidak lepas juga atas semua nasehat-nasehatnya aku begitu menghargainya. Aku sadar kalau sampai memasuki usia remaja sekarang ini, tentu tidak lepas dari didikan dan kasih sayang ayah dan bunda.
Namun saat ini, dengan segala  hormat, ijinkan aku menyampaikan isi hatiku. Tentu saja nanti ayah dan bunda boleh menanggapinya. Sebagai seorang remaja, aku sudah mulai berkembang. Wawasan dan pergaulanku juga makin bertambah. Ada banyak hal-hal baik namun juga tidak sedikit perkara-perkara yang jelek. Tantangan, tawaran maupun jebakan hidup juga beraneka ragam. Dunia menyajikan segala pernak-perniknya dari hal yang kudus sampai tidak kudus. Tentu saja aku sebagai remaja pasti akan senang dengan dunia baruku ini namun juga sadar aku bisa menjadi incaran empuk bagi “serigala-serigala ganas” di sekitarku seperti teman-teman, media informasi, dan sebagainya. He he maaf ya ayah dan bunda, aku kok jadi filosofis sih..itu sih gara-gara ayah dan bunda yang terus mendorongku untuk banyak membaca buku pengetahuan, he he tapi asyik juga ya.
Di saat inipun aku tetap membutuhkan bimbingan ayah dan bunda, namun aku juga ingin diberi kesempatan untuk belajar menghadapi setiap tantangan hidup ini. Menimbang-nimbang dengan keyakinanku sendiri dan membuat keputusan sendiri. Bukankah ini kesempatan untuk berlatih sekaligus untuk menguji bagaimana dengan norma-norma yang ayah dan bunda telah ajarkan padaku selama ini? Kalau ada yang aku tidak tahu, pasti aku akan bertanya pada ayah dan bunda. Ayah dan bunda dapat memberi masukan apapun dan biarlah aku belajar mengambil keputusan untuk itu bahkan kadang harus menanggung resiko karena kesalahan pilihanku. Tapi jangan dimarahi ya…jangan disalah-salahkan. He he hmh aku senang ayah dan bunda sudah tidak memukul pantatku lagi bila aku nakal. (aku ingat dulu ketika memanjat pohon mangga tetangga dan mengambilnya ketahuan bunda..dan ya gitu deh kena pukul pantat..he. tapi sekarang sudah tidak mencuri mangga lagi kok)
Aku juga ingin memikirkan kemana masa depanku. Jurusan apa yang aku ambil nanti bila aku kuliah dan di universitas mana biarlah itu sesuai minat dan kemampuanku. Pastilah menyenangkan bila menjalani sesuatu karena disukai dan sesuai kemampuannya. He he ayah dan bunda pasti bisa menebak apa yang kumau..ya khan?
Eh ini ada yang lebih serius ya ayah dan bunda. Mengenai pacaran bagaimana? He he Cuma bercanda kok aku tahu kalau belum boleh pacaran ya, aku kan masih SMA. Tapi justru aku ingin berterima kasih pada ayah dan bunda yang telah mengajariku prinsip-prinsip bagaimana memilih pasangan hidup dengan benar. Namun bila kelak ayah dan bunda melihat sudah saatnya aku berpacaran dan menikah tapi ternyata belum juga aku menemukan calon teman hidupku nanti, aku minta ayah dan bunda jangan memarahi aku atau menyalahkan aku apalagi dengan segala ancaman untuk memaksaku menikah menurut maunya ayah dan bunda. Kalau begitu pastilah aku akan tertekan dan bisa salah membuat keputusan. Akibatnya aku bisa menderita dan pasti ayah dan bunda juga akan kena getahnya.
Aku tahu ayah dan bunda akan bijaksana. Aku akan memutuskan dengan orang seperti kriteria yang telah ayah dan bunda ajarkan padaku, Cuma ijinkan aku diberi keleluasaan untuk membuat keputusan kapan akan menikah. Jangan takut dengan penilaian orang lain ya ayah dan bunda tentang aku nanti.
Lho aku kok sudah cerita hal-hal yang belum pasti sih ya…he he namun ini kesempatan yang baik untuk cerita hal penting ini pada ayah dan bunda. Tentu saja pasti ayah akan mengajak diskusi nanti, aku siap kok ayah he he.
Aku hanya ingin seperti bunda yang tunduk pada suami (ayahku) dan ayah yang begitu sayang dengan bunda. Biarlah aku kelak mendapat suami seperti ayah dan aku akan menjadi seperti bunda yang menghormati suami. Doakan aku ya ayah dan bunda.
Ayah dan bunda…ini sekelumit curhatku. Kapan-kapan disambung lagi ya..aku mengasihi ayah dan bunda

Kamis, 29 Maret 2012

Ancaman (Renungan Batin – muda mudi)


Aku takut sekali karena aku baru saja mendapat SMS dari pacarku. Dia memberitahu kalau dia akan bunuh diri dan katanya dia sudah membeli obat pembasmi serangga bahkan sekarang ini sudah siap diminumnya. Dia mengancam akan melakukan tindakan nekat ini bila aku tetap meminta putus hubungan dengannya. Intinya dia ingin supaya aku tetap jadi pacarnya.
Aku bingung menghadapi kondisi ini. Memang baru-baru ini aku sering bertengkar dengannya. Aku sudah jengkel dengan sikap dan perilakunya selama ini yang malas untuk bekerja. Aku sudah menyarankannya berkali-kali supaya dia segera melamar bekerja dimanapun namun dia selalu banyak alasan. Tentu saja dia sempat bekerja juga di beberapa perusahaan tapi selalu tidak bertahan lama dan keluar. Dia beralasan karena pimpinannya tidak enak atau teman kerjanya jahat-jahat atau jam kerjanya tidak jelas dan segala macam persoalan yang dia ungkapkan untuk membenarkan keputusannya. Dan akhirnya kembali menganggur.
Memang orangtuanya mampu dan ia menggantungkan hidup pada kekayaan mereka. Tapi seharusnya dia tidak boleh begitu apalagi usianya sudah bukan lagi anak-anak. Bukankah nanti dia harus menjadi kepala rumah tangga kalau menikah dan harus menafkahi anak istrinya. Bagaimana bisa kebutuhan keluarganya harus disokong dari orangtuanya ?
Tapi bagaimana dengan ancaman ini? Kalau aku tetap dengan keputusanku dan ia bunuh diri bagaimana? Nanti aku bisa disalahkan orang lain atau merasa bersalah sendiri. Wah betapa peliknya hubunganku dengannya. Akhirnya setelah mempertimbangkan dengan matang-matang, aku menjawab bahwa keputusanku telah bulat untuk mengakhiri saja percintaanku dengannya.
Suasana terasa mencekam dan dia tidak membalas SMS ku. Aku tambah kuatir. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi di sana. Malam ini aku gelisah sekali sehingga tidak mungkin aku bisa tidur. Pikiranku melayang-layang membayangkan bagaimana dengan pacarku itu. Aku tidak berani telp atau sms, namun aku juga takut kalau ada sms atau telp masuk jangan-jangan ada kabar yang kutakutkan itu.  
Sampai esok hari tidak ada berita, perasaanku mulai lega. Dan sorenya aku secara tidak sengaja ketemunya di jalan tapi dia segera pergi dengan wajah marah dan tidak membalas senyumku. Aku sakit hati namun kelegaanku justru lebih besar, karena dia masih hidup. Rasanya plong sekali bisa memutuskan sesuatu yang dulu sudah sering ingin kulakukan tapi tidak berani-berani.
Aku sudah ingin putus dengan cowokku itu beberapa kali. Selain karena dia malas tapi dia juga sering mengancam aku kalau aku memutuskan hubungan dengannya. Kata orang dia sangat “possesive” sekali denganku. Pernah dia mengancam mau jadi anak berandalan : suka mabuk, kebut-kebutan dan memang dia sempat melakukan hal-hal tersebut beberapa saat dan dia mau berhenti setelah aku mau kembali kepadanya. Pernah juga dia minggat dari rumah tanpa memberi kabar sampai keluarganya kebingungan dan sebagainya.
Setelah aku pikir-pikir, aku akan menderita apabila menikah dengannya kelak. Setiap kali ada masalah denganku, tindakannya justru melarikan diri atau merusak dirinya sendiri. Padahal itu baru masalah seperti itu. Bagaimana nanti kalau sudah berumahtangga dengan berbagai persoalannya seperti masalah keuangan, anak sakit, genteng bocor, ngepel dan nyapu dan segala pernak-pernik yang lainnya. Apakah dia sanggup? Padahal dia laki-laki yang seharusnya bisa melindungi keluarganya. Padahal aku juga sudah menunggu dia untuk berubah namun dia tidak juga menunjukkan itikad mau berubah, maka ya sudah bagiku tidak ada pilihan lain.
Aku rasa keputusanku sudah sangat tepat. aku tidak mau pernikahanku nanti justru membuatku menderita. Untuk apa menikah bila hanya makin membuat banyak persoalan. Aku juga tidak mau menikah karena terpaksa atau karena takut ancaman.
Ancaman yang dia ungkapkan padaku ternyata tidak dilakukannya. Itu hanya emosi. Itu hanya ancaman. Namun kalau seandainya dia tetap dengan tindakan nekat itu, aku tetap tidak boleh merasa bersalah dan tidak mau dipersalahkan karena dasar keputusanku itu bisa dipertanggungjawabkan dan aku juga tidak menyuruhnya melakukan hal tersebut.
Tentu tidak ada wanita di dunia ini yang mau hidupnya selalu tertekan dalam menjalin hubungan dengan pasangannya. 

Selasa, 27 Maret 2012

di bawah rindangnya pohon beringin (Renungan Batin -muda & mudi)


Siang itu di saat panas matahari begitu menyengat aku duduk berdua dengannya. Tak terusik keasyikan kami dengan segala mata memandang dan lalu lalang orang lain dengan kesibukannya masing-masing di alun-alun kota itu.

Hatiku resah, jantungku berdebar-debar dan pikiranku tak lagi bisa tenang. Tak kusadari salah satu kakiku menghentak-hentak berirama senandung tak berlagu. Hmh kenapa aku ini? Hai..kamu kan laki-laki mengapa untuk menghadapi situasi ini saja nyalimu kecil? Ucapku dalam hati.

Sejenak kutatap wajahnya dan dia  hanya tersenyum. Wah makin kencang debar jantungku. Huih…kacau deh kalau begini. Ayo sikat aja ! kamu kan sudah pengalaman. Terus saja pikiranku berkecamuk tak karuan.

Kugenggam jemari tangannya dengan penuh kehangatan. Tak ada penolakan, namun justru aku segera menarik tanganku dan terasa sekali getaran jemariku tanda kegugupanku. Baru kali ini aku merasa seperti ini. Berapa banyak gadis yang sudah aku pacari dan aku dengan percaya diri menyatakan cintaku pada mereka. Tak ada seorang gadispun yang menolak cintaku saat itu. Namun sekarang, aneh justru semua pengalamanku dulu tak laku. Kepercayaan diri justru luntur dihadapam gadis yang sederhana ini.

Dengan terbata-bata aku memberanikan diri untuk berbicara, meski sambil menunduk. Belum sampai aku menumpahkan semua perasaanku, dia memotong perkataanku. “kamu mengajakku disini ada perlu apa?”
Nah justru itulah yang aku mau katakan tapi sepertinya mulutku terkunci. Dia mulai gelisah dan sepertinya aku harus segera memberitahu untuk maksud apa aku mengajaknya. Yap..aku harus ngomong.

“Aku cinta kamu. Maukah kamu jadi pacarku…hmh calon istriku” akhirnya keluar juga keberanianku

Dia terperangah dan matanya agak melotot tapi tetap tidak menghilangkan kecantikannya. Lalu dia terseyum “kalau untuk jadi calon istri tentu saja aku tidak mau”

Terus terang aku juga kaget dengan jawabannya sekaligus agak bergirang terasa ada harapan dibalik kata-katanya.

“Tentu setelah itu jadi istriku dong..”ujarku dengan semangat

Sekarang justru dia tertawa terbahak-bahak, seakan-akan dapat membaca pikiranku. Lalu wajahnya serius dan meluncurlah ucapannya yang begitu tenang dan tegas.

“Terima kasih untuk kehormatan ini tapi maaf aku tidak bisa menjadi pacarmu atau apapun namanya karena aku sudah memiliki kriteria seperti apa calon suamiku kelak dan sekali lagi maaf..kamu tidak masuk kriteriaku itu” Lalu dia segera pamit dan meninggalkanku dengan pandangan kosong.

Seperti petinju yang kena KO demikianlah aku saat itu. Tak mengira dapat pukulan telak. Tak dinyana ada seorang gadis yang begitu kuat memegang prinsip dan keriteria, tak mudah hanyut dengan perhatian dan rayuan laki-laki. Tak juga melambung ketika dibuai perasan cinta dan logikanya tetap berjalan. Aku salut dengannya. Makanya aku tadi begitu gugup. Tidak seperti pacar-pacarku dulu, diberi perhatian sedikit saja sudah menyodorkan diri.

Dibawah pohon beringin yang rindang ini seharusnya aku nyaman berteduh dari panasnya matahari namun kini seakan tercabut dengan akar-akarnya, tatapan mata orang-orang disekelilingku juga seperti mengejekku. rumput-rumput lembut dikakiku juga terasa seperti  duri yang menusuk-nusuk.

ah aku kena batunya..sekarang tinggallah aku sendiri. Segera aku berlalu dari tempat itu dan teringatlah lagunya Sheila On 7 “Aku pulang tanpa dendam…”. Biarlah ini menjadi pelajaran bagiku untuk menghargai wanita dan tidak menganggapnya bahwa mereka adalah mahkluk yang mudah dijerat dengan apa yang dinamakan “cinta” lalu membuangnya begitu saja ketika aku sudah tidak menyukainya lagi.

Jumat, 23 Maret 2012

Mengasihi bantal yang kumal (Renungan Batin – relasi dengan orang lain - 1)

Ketika anak saya Marvel baru lahir. Ada kado dari seorang teman untuknya yaitu sebuah bantal kecil yang dipakainya ketika dia digendong. Maksudnya supaya kepalanya bisa nyaman dan terhindar dari sentuhan keringat si penggendong. Bantal itu bergambar tokoh kartun si beruang Pooh.

Sekarang usia Marvel sudah hampir 9 tahun, namun bantal itu masih setia menemani tidurnya. Bahkan ketika bantal itu tidak terlihat di kasur maka dia akan mencarinya hingga ketemu. Tentu saja pembungkus bantal kecil itu sudah berganti dan sekarang ini sudah terlihat kumal dan kotor. Rasanya sudah tidak layak lagi untuk disimpan apalagi sebagai teman tidur. Sebenarnya bisa saja diganti dengan bantal yang baru yang lebih bersih, namun Marvel tidakmau. Bahkan ketika kami mencoba membuang dan memegang bantal itu dengan rasa jijik, Marvel terlihat tidak suka dengan sikap kami. Justru dia memeluk bantal yang kotor itu dan terlelaplah tidurnya.

Mengapa Marvel sedemikian menyukai bantal yang sudah kumal itu? Ketika aku berpikir dari sudut pandangku maka aku tidak menemukan satu alasan untuk merawat dan menyimpan bantal itu karena penampilannya tidak menarik dan sebagainya, dia tidak layak disukai atau dikasihi. Namun ketika aku mencoba berpikir dari sudut pandang Marvel terhadap bantal itu, maka aku jadi melihat sisi yang berbeda. Aku jadi bisa menghargai, merawat dan menjagai serta memperlakukan bantal itu secara senang dan dengan penuh kasih sayang.

Pelajaran yang begitu dalam bisa aku dapatkan. Bagaimana aku bersikap kepada orang lain seharusnya tidak ditentukan dari sudut pandangku dan juga bukan karena kondisinya. Aku mengasihi, menghargai dan menerima orang lain bukan karena dia layak untuk dikasihi apalagi bukan karena dia sudah banyak berbuat baik kepadaku.

Tentu saja ada banyak alasan untuk sulit mengasihi orang lain apalagi bila orang lain tersebut sudah banyak merugikan dan manyakiti hatiku. Yang seringkali terjadi aku akan mudah membencinya dan menaruh dendam kepadanya. Atau minimal berharap atau mengangankan supaya orang yang telah membuatku menderita itu akan mendapat celaka dalam bentuk apapun. Maka aku tinggal merasa lega dan mensyukuri hal itu telah terjadi atasnya. Sebenarnya ini juga tidak lebih dari hati yang jahat. Banyak orang mengatakan adalah adil kalau kejahatan ya harus dibalas dengan kejahatan. Kalau orang memukul aku maka aku juga harus ganti memukulnya. Kalau diam saja, maka aku dikatakan “pengecut” dan “goblok” atau sejenisnya.

Jadi aku akan mengasihi dan menerima orang dengan baik bukan karena kondisinya pantas untuk aku perlakukan demikian, juga bukan karena dia kasihan sehingga aku belas kasihan padanya, juga bukan karena banyak jasanya padaku. Namun aku harus mengasihi orang bagaimanapun karena Tuhan yang menciptakan dan memiliki orang itu mengasihi orang itu.

Jadi hanya itu alasanku untuk mengasihi orang lain. Sehingga tidak ada alasan apapun buatku untuk tidak mengasihi orang lain bagaimanapun keberadaannya. Apalagi aku juga bukanlah orang yang sempurna. Kalau Sang Sempurna saja mengasihi dan menerima aku apa adanya maka tentu aku juga harus belajar demikian. Ternyata memang benar, Tuhan sudah membuktikan bagaimana Dia diperlakukan tidak adil, diludahi, ditampar, dikhianati, dicemooh, dicambuk,ditusuk, diejek bahkan disalibkan. Namun Dia masih bisa mengatakan “Bapa ampunilah mereka, karena mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat”. Apakah ada moral yang lebih tinggi dari ini?