Senin, 07 November 2011

BILA AKU SELINGKUH....

Mata itu begitu jelas lekat menatapku, tajam sekali… seakan berlirih memanggil-manggilku

wajahnya lembut ayu…tak bernoda menyuarakan rindu
...
Bibirnya memerah memecah sendu..mendayu-dayu

oh Gusti…kuatkah bertahan hatiku ?


Mulanya tak ada rencana untuk bertemu, menyapa apalagi bercengkerama dengannya. Namun waktu itu tiba. Mulanya biasa, namun pertemuan itu tiada lepas dari ingatan dan memberi kesan yang mendalam. Entah karena ke-ayu-annya, perhatiannya, rasa saling “nyambung” atau karena aku sedang “kehausan”.

Disambung dengan saling bertukar no HP lalu terkirimlah “pesan” demi “pesan”. Dari pertanyaan basa-basi, lalu mulai nyerempet ke hal-hal yang pribadi. Bila ada nada pesan diterima, segera ingin membuka HP dan membacanya. Rasanya sangat deg-deg plas…hmh..harap-harap cemas. HP digenggam tak mau dilepas. Apakah ini yang dinamakan jatuh cinta? ataukah ini yang dinamakan puber kedua? aku tidak tahu. Yang mulainya biasa lama-lama menjadi luar biasa pengaruhnya. Bahkan sulit lepasnya.

Tapi tentu semuanya menjadi rahasia berdua, tak seorangpun boleh tahu. Demikian juga istriku. Apakah aku sudah selingkuh?

Bila aku selingkuh…rasanya enak dan menantang dicampur gairah menggelora

Bila aku selingkuh..kenikmatan itu bisa kuraih meski bisa jadi sesaat

Tapi

Bila aku selingkuh..apakah aku benar-benar puas?

Bila aku selingkuh..bukankah aku mengkhianati janji pernikahanku

yang artinya mengkhianati Tuhan yang mempersatukan, Istriku sebagai teman pewaris kasih karunia, anak-anakku buah hati kami

dan diriku sendiri

Bila aku selingkuh…aku juga menjadikan wanita itu sebagai pelampiasanku..obyekku

ah egoisnya aku

Bila aku selingkuh…seteguk kurasa tapi pahit di dada tak sirna

Bila aku selingkuh..porak-porandalah tatanan rumah tangga

air mata bisa menjadi makanan

Bila aku selingkuh…semua berduka

terlalu mahal harganya cinta sejatiku hanya untuk seteguk kenikmatan

terlalu bernilai “kekasih-kekasih jiwaku” yang terganti hanya demi bayangan melesat

Ah maka semoga ini menjadi “BILA” dan tidak pernah ada bahkan niatpun tidak

(ini sebuah fiksi--perenungan jiwa)

AKU BISA GILA..

Suatu malam saya menerima SMS dari seseorang dan menyatakan keinginannya untuk bertemu saya sambil dia mengatakan “kalau tidak, saya akan gila”

Saya agak kaget dengan pernyataannya tersebut. Tidak pernah saya melihat ada tanda-tanda yang menunjukkan perilaku yang tidak wajar sebelumnya. Apalagi saya lihat dia sukses dengan kuliahnya bahkan lulus menjadi sarjana dengan baik. Dia a...nak yang pandai, kreatif dan ramah.

Esok hari kami bertemu dan memang belum banyak yang dia ceritakan, namun justru dia menunjukkan SMS dari teman baiknya yang sedang depresi dan mau mati katanya. Teman saya ini sedih, karena teman baiknya yang sama-sama suka main musik heavy metal itu sedang mengalami masalah berat dan frustasi dengan hidupnya.

Cerita tidak berhenti sampai disitu. Tadi malam teman saya ini telp dan mencurahkan apa persoalannya. Dia mengatakan kalau dia merasa sangat kesepian akut dan bila dia merasa seperti itu seakan ingin meledak dan berteriak-teriak. Karena itu dia sering “lari” ke pornografi dan macam-macamnya.

Lebih lanjut dia kemudian menceritakan hubungannya dengan ke dua orangtuanya yang menurutnya tidak baik. orangtuanya memperlakukan dia terus seperti anak-anak dan tidak membuatnya mandiri bahkan untuk mandi air hangat, mamanya menyuruhnya duduk dan mamanya akan menyiapkan segala sesuatunya. Padahal dia sudah menjadi sarjana.

Sebenarnya dia tidak mau diperlakukan demikian. Dia ingin melakukan sendiri. Apalagi orangtuanya cenderung protektif, sehingga segala macam larangan dikenakan padanya. Untuk pacaran, bepergian, pilihan karier masa depan dan sebagainya banyak sekali yang diatur dan ditentukan oleh orangtuanya. Kasihan sekali anak ini.

Banyak orangtua yang tidak sadar ketika mereka memperlakukan anaknya yang menurut mereka tujuannya baik, belum tentu membuat anaknya bahagia. Justru membuat anaknya menderita jiwanya bahkan membuat hubungan mereka jadi rusak.

Selain itu orangtua perlu menyadari tahap perkembangan anak sehingga mengerti bagaimana mereka mendidik anak sesuai dengan perkembangannya tersebut, karena tiap tahap anak memiliki kubutuhan dan perlakuan yang khusus.

Memang tidak mudah menjadi orangtua, karena memang tidak ada sekolah bagi orangtua. Tapi seiring dengan tugas yang harus dijalani, mereka dapat belajar dari buku-buku, seminar-seminar dan diskusi-diskusi dengan orang lain.

Ada waktu dimana pada masa kecil, anak-anak akan selalu dekat dengan orangtua bahkan kemana-mana mereka akan ingin ikut pergi dengan orangtuanya. Namun ada waktunya juga mereka mulai menjauh dari orangtua, bahkan ketika orangtuanya mengajak pergi saja mereka akan menolak. Demikian juga akan ada waktu dimana mereka memang akan di “lepas” terbang seperti anak panah melesat ke sasaran. Kualitas hubungan dan didikan yang orangtua berikan selama bersama anak-anak akan menentukan kemana sasaran yang akan dicapai.

Semoga kita menjadi orangtua yang bijaksana..
bila kita menjadi anak yang mengalami demikian, mari kita cari orang yang dapat menolong kita untuk konseling.

BUKAN SALAH SIAPA TAPI ADA MAKSUD APA

Sore itu saya melintas di satu jalan. Sejenak mata saya tertumbuk pada sesosok orang yang sedang duduk di atas trotoar seorang diri. Pandangan matanya kosong, tak jelas apa yang sedang dipikirkannya. Namun saya melihat jelas bahwa ada sesuatu yang "berbeda" dari fisiknya dibandingkan dengan orang kebanyakan. Ukuran kepalanya lebih besar dari ukuran kepala ora...ng dewasa pada umumnya. Dugaan saya, dia terkena Hidrocepalus.

Lalu pikiran saya melayang, berbagai pertanyaan muncul. Namun pertanyaan yang sangat kuat ada di benak saya adalah mengapa dia harus lahir demikian, apa yang menyebabkan dan seterusnya. Artinya saya mempertanyakan alasan atau latar belakang suatu keadaan.

Contoh di atas hanya salah satu dari sekian banyak persoalan hidup di dunia ini yang bisa kita jumpai dalam hidup kita sehari-hari. Banyak keluarga-keluarga yang memiliki anggotanya entah anak atau saudara yang lahir tidak dalam keadaan sempurna atau setelah sekian lama bertumbuh lalu secara tiba-tiba terkena sesuatu yang tidak diharapkan. Entah mengalami kecacatan secara fisik : polio, buta, tuli, bisu. Ada yang mengalami keterbelakangan mental, atau juga yang sekarang dikenal dengan anak berkebutuhan khusus . Ataupun kondisi seperti contoh saya di atas. Bahkan pula ada yang mengalami kelainan-kelainan di dalam tubuhnya seperti misalnya penyakit Leukimia, Lupus dan banyak lagi lainnya. Dan tentu saja masih banyak yang tidak cukup untuk diuraikan di sini.

Semua orang pasti tidak menghendaki dirinya lahir menanggung kondisi demikian atau memiliki anak dan saudara seperti itu. Karena hal tersebut bisa membuat malu/aib, melelahkan secara fisik dan emosi, terkuras keuangannya untuk biaya berobat/terapi. Namun harus bagaimana ketika semua itu sudah terjadi dan merupakan keadaan yang nyata.

Semua orang pasti tidak siap. Ada kesedihan, kekecewaan, kemarahan, penyesalan dan pertanyaan. Ada sebagian orangtua yang kemudian tidak mau menerima hal tersebut dan membuang anaknya yang dianggapnya merepotkan orangtuanya. Juga ada yang memasung atau mengunci anaknya di kamar supaya orang-orang tidak melihat "kekurangan" anaknya tersebut.

Apa yang saya tuliskan di atas bukan rekaan saya. Teman-teman saya sebagian mengalami perlakuan seperti itu. Ada yang diletakkan (di buang) di depan rumah orang lain oleh orang tuanya karena kakinya polio. Teman saya yang lain dari kecil sampai usia remaja dikunci tiap hari di kamar oleh ayahnya yang malu memiliki anak perempuan yang jumlah jarinya tidak lengkap.

Lalu bagaimana harus meresponinya. Seringkali orang lebih mudah untuk mempertanyakan ini salah siapa dari keadaan itu. Apakah salah orangtuanya atau salah satu dari orangtuanya? atau anak itu yang salah? atau orang lain? atau Tuhan?

Bila kita menekankan pertanyaan semacam itu maka kita akan mencari-cari kesalahan orang, maka bila kita sudah mendapatkan kesalahan dan orang yang kita anggap penyebabnya maka akan mudah bagi kita untuk tersulut kemarahan, kebencian, balas dendam dan terjadilah konflik.

Namun bila kita menemui penyebabnya itu ada pada kita maka kita akan terus dihantui perasaan bersalah yang rasanya sulit terampuni. Apalagi kalau kita menganggap Tuhan-lah yang jadi penyebab dari kondisi anak kita, maka kita seperti merasa Tuhan tidak adil, tidak baik dan semena-mena.

Itu semua tentu melelahkan dan tidak ada manfaat baiknya. Kita bisa saja justru tidak menyelesaikan masalah namun mencari masalah baru. Hubungan kita dengan Tuhan, diri sendiri dan orang lain justru terganggu. Bukankah dengan memiliki anak yang seperti itu saja sudah membutuhkan energi yang banyak, mengapa harus menguras energi kita untuk sesuatu yang sebenarnya bisa kita pakai untuk menolong anak kita tersebut.

Pertanyan apa yang bisa kita tanamkan dibenak kita ? Ada maksud apa di balik semua kondisi ini.

Bila kita bertanya ini salah siapa, maka kita sedang menengok ke belakang yang sebenarnya sudah berlalu dan sulit untuk diulang dan yang muncul adalah penyesalan. Bila kita bertanya ada maksud apa, maka kita sedang mengarahkan pandangan ke depan. Dan ini mengandung harapan untuk menjalani proses yang kita tanggung.

Tidak semua bisa terjawab dengan pertanyaan ada maksud apa. Kadang sebagian menjadi misteri ilahi. Mungkin kelak bila bertemu dengan Sang Perancang Agung, kita baru memahami apa maksud-nya.

Bukankah sering kita mendengar, banyak tokoh-tokoh besar di dunia ini yang tenyata masa kecilnya "tidak seberuntung" anak yang lainnya. Bukankah Sang Pencipta yang memiliki anak kita itu punya rancangan khusus untuk menyatakan keagunganNya. Bukankah justru di dalam kelemahan-lah, pertolongan Tuhan akan nyata.

mari kita bertanya bukan salah siapa tapi ada maksud apa

MESKI PUNYA ANAK SELALU INGIN MENJADI ANAK

kalimat ini saya dapatkan dari pernyataan seorang teman yang baru saja berduka karena ibunya dipanggil Tuhan. Ayahnya sudah meninggal ketika dia masih kecil. Artinya sekarang dia sudah tidak memiliki orangtua lagi di dunia ini. Dia sudah menikah dan dikaruniai lebih dari satu anak, namun nampaknya “ditinggal” orangtuanya menjadi sesuatu kehilangan yang serius.

Dalam hati saya setuju dengan pernyataan teman saya itu. Sepertinya ada sesuatu yang kosong, lenyap dan terambil dari hidupnya bila orangtua kita meninggal. Orangtua menempati ruang khusus di hati kita. meskipun kita sudah menikah dan memiliki beberapa anak, namun “tempat” orangtua di hidup kita itu sesuatu yang tidak tergantikan dan sangat spesial. Sebagaimana “tempat” bagi istri dan anak-anak kita mengisi ruang spesial yang lain dalam hidup kita.

Saya pernah mengalami dan merasakan hal tersebut. Ketika ayah saya meninggal tahun 1996. Meskipun hubungan kami tidak dekat. dia pindah ke Jakarta sejak saya masih di dalam kandungan ibu. kami jarang berkomunikasi dan bertemu meskipun beliau tidak bercerai dengan ibu, tapi karena alasan tertentu beliau pergi. beliau menikah lagi dan memiliki dua anak. Namun ketika beliau meninggal, saya merasa ada yang sepi dan terenggut dari hati saya. selama beberapa hari saya merasa berduka dan senyap, meskipun tidak sampai berbulan-bulan.

Ditinggal menghadap Tuhan oleh orangtua akan membuat kita merasa “sendirian” di dunia ini, seperti anak “terhilang” (lolo- dalam bahasa jawa) yang artinya hidup sebatang kara, tiada yang peduli dan entah bagaimana nasibnya. Kita seperti merasa kehilangan tempat bersandar, tempat mengadu, tempat untuk merasakan belaian, tempat untuk mendapatkan rasa aman, tempat mendapatkan penerimaan dan sebagainya.

Saya tidak tahu persis kenapa semua itu bisa terjadi dan terasa demikian, mungkin karena kita ada melalui mereka. mereka bagian dari hidup kita. ini merupakan misteri. Sulit untuk diceritakan namun dirasakan. Tidak kebetulan Tuhan menjadikan kita ada melalui mereka. Bahkan sekalipun mereka tidak merancang namun Tuhan mendesainnya sedemikian rupa.

Memang tidak sedikit orangtua yang tidak menyayangi anaknya namun justru menyia-nyiakan bahkan dianiaya dan dibunuh dengan berbagai macam alasan. Apakah mereka bisa dikatakan menjadi tempat bersandar dan memperoleh rasa aman itu? bukankah mereka justru menciptakan rasa tidak aman bagi anak-anaknya? kadang ada yang berpendapat, lebih baik tidak punya orangtua dari pada punya orangtua tapi yang menyakitkan hati. Tentu saya menyadari hal tersebut. Itu sesuatu yang tidak mudah untuk ditanggung dan akibatnya begitu menyedihkan dan bisa panjang sekali pengaruhnya. tentu orangtua yang demikian harus mempertanggungjawabkan tindakannya kepada Sang Empunya si anak yang sesungguhnya.

Namun yang ingin saya katakan disini adalah mengenai keberadaan anak dan keberadaan orangtua. terlepas dari apapun yang orangtua lakukan pada anaknya, anak merupakan bagian dari orangtua dan orangtua bagian dari anak. Bukankah kita juga mewarisi dari keberadaan orangtua kita, minimal secara fisik : kemiripan wajah, penyakit tertentu, dan sebagainya.

Oleh karena itu, biarlah kita terus menaruh hormat kepada orangtua kita bukan karena apa yang mereka telah, sedang dan akan perbuat bagi kita tapi karena kita adalah bagian dari mereka, kita ada melalui mereka. Bila mereka masih hidup, ini merupakan kesempatan kita untuk banyak berbuat sesuatu kepada mereka sehingga kelak bila mereka dipanggil Tuhan maka tidak ada lagi penyesalan yang kita tanggung. Namun, bila orangtua kita telah meninggal, biarlah kita selalu mengenang mereka dan menceritakan keberadaan mereka kepada anak-anak kita.

Selain itu, kita bisa mengajarkan pada anak-anak kita mengapa dan bagaimana menghormati orangtua.

DUA KERTAS DIREKATKAN

Suatu siang saya memperhatikan seorang bapak yang kira-kira usianya sudah lebih dari setengah abad. Badannya masih tegap dan nampak sehat. Dia berdiri di depan pintu rumahnya dengan menggunakan celana pendek. Selintas saya perhatikan rumah itu tampak sepi. Rumah itu berada di ujung gang yang sepi sehingga menambah suasana kesunyian.

Saya mendengar dari seorang teman bahwa b...apak itu memang tinggal sendirian di rumahnya yang cukup besar itu. Hanya pada pagi hingga siang akan datang seorang yang membersihkan rumah itu dan mengurusi segala keperluan bapak itu, misalnya mencuci pakaian, memasak dan sebagainya. Setelah selesai dengan pekerjaannya, ibu itu akan pulang kembali ke rumahnya. Jadi tiap malam bapak itu hanya tinggal sendirian.

Istrinya sudah meninggal cukup lama dan anak-anaknya yang juga telah berumah tangga tinggal di luar kota. Mereka akan mengunjungi bapaknya jika ada waktu liburan. Nampaknya seluruh pemeliharaan bapak itu hanya diserahkan pada seorang pembantu karena memang bapak itu sudah tidak bekerja lagi.

Teman saya mengatakan semenjak ditinggal istrinya, bapak itu merasa sangat kehilangan. Kejadian ini sangat memukul jiwanya sehingga dia terguncang. Dulu dia aktif dalam kegiatan keagamaan, namun sekarang sudah tidak lagi. Pekerjaanpun dia tinggalkan. Jadi sehari-hari dia hanya di rumah itu sendiri entah aktivitas apa yang dia kerjakan.

Mungkin saya dapat memahami betapa sulitnya ditinggal orang yang dicintai dan mencintainya yang sudah hidup bersama-sama dalam waktu yang lama. Maka benar juga kalau ada pernyataan bahwa stress yang paling berat yang dialami seseorang adalah ketika kehilangan pasangan hidupnya. Apalagi setelah anak-anaknya besar dan tidak tinggal di tempat yang dekat, maka bisa jadi kesepian dan perasaan tidak berdaya itu akan menerpanya.

Ketika ada sepasang pengantin menikah, mereka disatukan dalam segala hal : fisik, jiwa, roh dan sebagainya. Ibaratnya ada dua lembar kertas yang direkatkan semuanya dan bila merobek salah satu kertas itu maka terkoyaklah ke dua kertas itu. Disitulah kesatuan pernikahan. Oleh karena itu, sebenarnya bila dua orang sudah menyatu dalam “daging” maka ke dua orang itu sudah terikat satu dengan yang lain.

Maka pernikahan itu sejatinya sekali untuk seumur hidup dan hanya untuk dua pasangan itu saja. Tentu sulit untuk berbagi dengan yang lain apapun alasannya. Kecuali memang maut memisahkannya. Apabila ada pasangan yang salah satunya berselingkuh, maka pasangannya akan terluka namun sebenarnya diapun terluka karena hakekat kesatuan tersebut.

Pemahaman hakekat kesatuan ini akan mendorong orang untuk menghargai pasangan, diri sendiri sekaligus pernikahan.

Hai Merpatiku....

Ada teman yang menceritakan kondisi kedua orang tuanya. Sekarang ini orang tuanya sering bertengkar. Ada masalah sepele saja sudah ribut sampai akhirnya diam-diaman alias tidak tegur sapa sampai berhari-hari.

Sehari-hari ke dua orang tuanya bekerja dan pulang sudah hampir larut malam. Setibanya di rumah seperti sudah jadi tradisi, mereka makan malam setelah itu langsung berpisah dengan aktivitas ...masing-masing. Si ibu asyik dengan tontonan sinetronnya, sedangkan si ayah tidak suka dengan sinetron, masuk kamar dan menyetel TV di kamar dengan tontonan lain yang disukai si ayah.

Anak-anak mereka sudah menikah dan ada yang tinggal di luar kota maupun di tempat lain. Bila orang tua itu tidak di rumah, maka keadaan rumah itu kosong. Namun sebenarnya, meskipun mereka pulang ke rumah, kondisinyapun sepi karena tidak ada komunikasi dan kehangatan di antara ke dua orang tua tersebut.

Status mereka sah sebagai suami istri dan tinggal bersama dalam satu atap. Mereka tidak bercerai secara hukum, namun keadaannya sepertinya sudah "berpisah" karena sudah tidak ada komunikasi yang sehat. Orang yang paling dekat bagi mereka ya pasangan mereka sendiri, namun pasangan itu sendiri sudah terasa "jauh" hubungannya. Artinya mereka sudah tidak punya siapa-siapa dimana mereka bisa curhat dan berkomunikasi.

Tidak tahu apa yang membuat demikian. Namun saya melihat kenyataan ini banyak dialami oleh orang-orang tua yang anak-anaknya sudah menikah dan tinggal terpisah dengan mereka. Mereka hidup dalam kesepian meskipun masih tinggal dengan pasangannya.

Bisa jadi selama ini mereka sibuk mengurus anak-anak dan pekerjaan. Sedangkan kebutuhan mereka berdua sebagai suami istri justru terabaikan. Mungkin tidak terasa sehari dua hari setahun namun bila itu sudah bertahun-tahun dan tibalah saat mereka tinggal berdua, maka barulah terasa bahwa hubungan mereka sudah terasa "jauh". Mereka seperti tidak saling mengenal dan menjadi asing.

Sebagai suami istri tentu mempunyai kebutuhan yang juga harus diperhatikan. Hubungan mereka lebih penting dari anak-anak. Artinya suami harus mengutamakan istri daripada ke anak-anak, demikian istri harus mengutamakan suami dari pada ke anak-anak.

Banyak orang tua yang memperlakukan salah terhadap anak-anak mereka dan mengabaikan pasangannya. Misalnya istri-istri kadang senang tidur dengan anak-anaknya daripada dengan suaminya, sehingga kadang-kadang kebutuhan seksual sang suami ikut terganggu. Ini dapat menimbulkan masalah. Selain itu bila suami istri tidur dalam satu ranjang diharapkan akan memiliki banyak kesempatan untuk berkomunikasi.

Kepentingan komunikasi suami istri juga bukan hanya diskusi masalah rumah tangga, anak-anak, keuangan, pendidikan anak-anak dan sebagainya namun juga menyatakan perasaan masing-masing.

Sebagai suami istri perlu menyediakan waktu untuk saling curhat dan tidak membicarakan anak-anak dan sebagainya. Bila ini dilakukan akan sangat nyaman sekali hubungan di antara mereka.

Saya berjuang untuk menyediakan waktu dengan istri saya supaya memberi kesempatan untuk saling curhat perasaan. Itu sering dilakukan sambil makan di rumah makan ber dua, Bila saya sedang ke luar kota, kadang saya menuliskan SMS ke istri saya untuk mengajaknya pergi ber dua seperti kalimat-kalimat yang saya tulis di bawah ini.

Hai merpatiku

Betapa senangnya terbang bersamamu

Mengarungi alam raya

Bermandikan sinar matahari

Berluncur angin, menembus awan

Disegarkan hujan

Bolehkah kita hinggap sejenak berdua

Besuk pagi di warung....

Untuk melepas dahaga dan lapar ?See More

Kotoran Kucing

Suatu siang saya sekeluarga makan di rumah makan. Setelah selesai makan, anak saya yang ke dua yang bernama Esa berlari-lari sambil berteriak-teriak memanggil kakaknya.

“Kak… kak ada kucing Puk (buang air besar) !!” teriaknya.
...
Kakaknya yang tatkala itu masih belum habis makannya segera beranjak dari tempat duduknya lalu berlari mengikuti adiknya.

Sesaat kemudian mereka kembali dengan senyum-senyum. Lalu saya bertanya apa yang mereka lihat. Adiknya yang menjawab ” Tadi kak Marvel lihat kucingnya sedang puk”

Kakaknya menyambung ” ya tadi aku gali tanah bekas kuburan puk-nya kucing he he”

“Tangannya kotor dong. Memangnya bagaimana caranya kucing puk?” tanya saya

“Pertama kucingnya gali tanah dulu lalu dia jongkok lalu dia puk lalu ditutup lagi tanahnya” jelas si kakak yang usianya masih 8 tahun

“puk-nya warnanya apa?” tanya saya seperti menguji

“hitam..eh abu-abu” jawab adiknya

Dari pengalaman ini membuat saya merenung. Mengapa anak-anak begitu antusias melihat kucing puk. Padahal melihat kucing menari-pun belum tentu saya tertarik melihatnya. Namun itulah bedanya anak-anak dengan orang dewasa secara usia.

Anak-anak memiliki rasa ingin tahu yang besar. Mereka seperti mendapatkan penemuan-penemuan yang baru dalam kehidupan sehari-hari. Meskipun kadang hal-hal itu juga pernah mereka lihat, namun seringkali mereka masih tertarik melihat dan mengetahuinya. Itulah yang membuat mereka ceria, selalu segar, dipenuhi kepolosan dan keceriaan melihat hal-hal yang unik bagi mereka.

Sedangkan orang-orang dewasa kadang acuh dengan apa yang sudah “ada” atau yang sudah diketahui. Mereka kadang mudah bosan. Kadang orang tua merasa sudah tahu.

Bagian yang perlu terus dikembangkan dalam hidup kita supaya hidup ini segar, menarik, tidak menjemukan dan selalu “baru” meski itu sesuatu yang sudah pernah ada dan yang sudah diketahui. Bagian itu adalah Techable yaitu hati yang terbuka untuk belajar dan diajar.

Bila hati kita siap untuk belajar dari apapun maka tidak sedikit kejadian, pengalaman, barang atau orang dan sebagainya akan menjadi pelajaran bagi kita dalam kehidupan kita sehari-hari. Hal tersebut membuat kita mendapatkan “penemuan-penemuan” baru dalam segala hal. Yang pada akhirnya akan membuat kita bijak karena belajar dari kehidupan itu sendiri.

Selamat memiliki hati yang belajar.